-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
SEPUTARMALUKU,MASOHI – Pelaksanaan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Kota Masohi di Lapangan Nusantara, Selasa, 03/11/2026, menuai kritik dari kalangan masyarakat adat.
Panitia penyelenggara dinilai tidak menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal setelah terdengar musik dari tribun tamu undangan saat prosesi ritual adat penyerahan Pataka Pamahanu Nusa masih berlangsung.
Insiden tersebut memicu kekecewaan masyarakat adat, khususnya perwakilan empat negeri adat yang hadir dalam rangkaian perayaan tersebut. Prosesi yang semestinya berlangsung khidmat dan penuh penghormatan justru terganggu oleh suara musik dari pengeras suara yang diduga diaktifkan oleh panitia.
Bagi masyarakat adat di Maluku Tengah, ritual penyerahan Pataka Pamahanu Nusa bukan sekadar bagian dari seremoni perayaan. Prosesi tersebut memiliki makna sakral yang berkaitan erat dengan penghormatan terhadap leluhur, identitas, serta warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu tokoh adat Negeri Amahai yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan panitia. Ia menilai, insiden tersebut mencerminkan lemahnya pemahaman penyelenggara terhadap tata krama dan nilai-nilai adat yang seharusnya dihormati.
"Prosesi adat ini adalah ritual sakral, berkomunikasi dengan leluhur, bukan tontonan main-main yang bisa diselingi musik joget. Panitia hari ini menunjukkan sikap yang sangat amburadul dan tidak tahu adat! Tindakan menyalakan musik di tengah ritual jelas melecehkan kami, masyarakat Amahai, dan empat negeri lainnya yang datang membawa kehormatan adat ke kota ini," tegasnya yang tak ingin namanya di publikasi.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kesalahan teknis pelaksanaan acara, tetapi menyangkut penghormatan terhadap martabat dan kehormatan masyarakat adat.
Ia juga menyoroti lemahnya koordinasi panitia yang dinilai tidak mampu menempatkan setiap rangkaian kegiatan sesuai dengan karakter dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Ironisnya, insiden tersebut justru terjadi dalam momentum perayaan HUT Kota Masohi yang semestinya menjadi ruang mempererat persaudaraan, memperkuat identitas budaya, serta melestarikan kearifan lokal masyarakat Maluku Tengah.
Atas kejadian itu, masyarakat adat mendesak pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja panitia penyelenggara. Mereka juga meminta adanya klarifikasi terbuka serta permohonan maaf secara resmi melalui mekanisme adat kepada masyarakat yang merasa dirugikan.
Masyarakat adat berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Sebab, perayaan hari jadi sebuah kota bukan hanya tentang kemeriahan seremoni, tetapi juga bagaimana menghargai sejarah, budaya, dan nilai-nilai adat yang menjadi bagian dari identitas daerah.