Fenomena kemunculan daratan yang dikenal masyarakat sebagai Pulau Timbul di Desa Yamru, Kecamatan Tayando-Tam, Kota Tual, Maluku. | dok: istrinewa

Misteri Pulau Timbul di Perairan Yamru, BMKG Tunggu Informasi Lebih Lanjut

1

SEPUTARMALUKU,TUAL – Fenomena kemunculan daratan yang dikenal masyarakat sebagai Pulau Timbul kembali menghebohkan warga Desa Yamru, Kecamatan Tayando-Tam, Kota Tual, Maluku. Daratan yang muncul di tengah perairan tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 60 meter dan lebar 30 meter.

Kemunculan terbaru Pulau Timbul terjadi pada Senin, 02/11/2026, sekitar pukul 02.00 WIT dini hari. Peristiwa ini kembali menjadi perhatian masyarakat karena fenomena serupa diketahui telah terjadi berulang kali sejak puluhan tahun lalu.

Berdasarkan penuturan warga, Pulau Timbul pertama kali terlihat pada 1982. Namun, beberapa tahun berselang, daratan tersebut kembali tenggelam dan menghilang dari permukaan laut.

Fenomena serupa kembali terjadi pada 1992. Kala itu, daratan muncul secara bertahap hingga membentuk gumpalan batu berukuran besar yang kemudian tetap bertahan di kawasan tersebut.

Kemunculan berikutnya tercatat pada 2023. Akan tetapi, daratan yang muncul saat itu hanya bertahan beberapa hari sebelum kembali tenggelam.

Salah satu perangkat Desa Yamru, Lukman Kabakoran, membenarkan kemunculan kembali fenomena alam tersebut pada Selasa, 03/11/2026. Ia berharap Pemerintah Kota Tual segera mengambil langkah dengan melibatkan tenaga ahli geologi untuk melakukan penelitian langsung di lokasi.

"Kami harap pemeriksaan lapangan perlu dilakukan, termasuk pengambilan sampel material daratan, guna mengungkap proses terbentuknya fenomena tersebut secara ilmiah," kata Kabakoran.

Ia juga menilai kajian tersebut penting untuk memastikan apakah kemunculan Pulau Timbul memiliki keterkaitan dengan aktivitas geologi bawah laut, termasuk kemungkinan aktivitas vulkanik.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum dapat menyimpulkan penyebab munculnya daratan tersebut.

PMG Pertama Stasiun Geofisika Kelas I Karang Panjang Ambon, Albertho Ruhulessin, menjelaskan bahwa hingga kini pihaknya belum memiliki informasi dan data yang cukup untuk memastikan proses terbentuknya Pulau Timbul maupun waktu kemunculannya berdasarkan hasil pemantauan BMKG.

"Berdasarkan pemantauan aktivitas kegempaan, tidak terdeteksi adanya gempa signifikan di sekitar lokasi, khususnya wilayah perairan Kota Tual," ujar Ruhulessin.

Dengan belum adanya kepastian mengenai penyebab fenomena tersebut, penelitian lebih lanjut menjadi langkah penting untuk mengungkap asal-usul kemunculan Pulau Timbul.

Kajian geologi dan pemeriksaan langsung di lapangan diharapkan dapat mengidentifikasi karakteristik material, proses pembentukan daratan, serta kemungkinan adanya aktivitas geologi di bawah laut perairan Yamru.